Oleh: sipirprodeo | Februari 8, 2011

Benarkah Banyak Pungli di Lapas / Rutan ?

pungli di lapas

Akhir-akhir ini banyak media yang menyoroti banyaknya pungli di lapas / rutan. bahakn ada yang sampai membawa hiden camera (kamera tersembunyi) untuk membuktikan ada tidaknya pungli di Lapas atau rutan. Benarkan di Lapas/rutan mara terjadi pungli ?

Pungli atau pungutan liar bukan barang baru, apalagi selama orde baru penyakit ini bisa dikatakan seperti penyakit rabies yang cepat menjalar ke seluruh tubuh instansi baik pemerintah maupun swasta. Seiring dengan bergulirnya era reformasi yang menuntut pembersihan dari KKN (korupsi, Kolusi dan nepotisme) maka sorotan terhadap praktek pungli makin gencar dilakukan terutama oleh media massa dan LSM.

Jika kita teliti satu-per satu, pungli belumlah punah dari negeri ini bahkan mungkin di setiap instansi hampir terjangkiti penyakit menular ini. Bagaimana dengan Lapas atau rutan ?

Fakta yang diungkap media TV dengan hiden camera beberapa waktu lalu tidaklah bisa disangkal bahwa pungli masih ada di lapas dan rutan diakui atau tidak. bahkan yang membantah dengan keras maka akan ketahuan bohonnya, wong jelas-jelas ada buktinya kok..!

Namun, dengan temuan itu muncul pertanyaan :

1. Apakah semua Lapas/rutan marak dengan pungli ?

2. Apakah semua pegawai ikut dalam pungli tsb

3. tidak adakah upaya intern untuk membenahi pungli tsb ?

Tentu saja praktek pungli tidak dibenarkan di instansi manapun termasuk lapas dan rutan. bahkan di area gerbang penjara pasti ada tulisan ” pengunjung tidak di kenai biaya”.

Pungli di penjara yang diekspos diantaranya :

1. pungli tarif kunjungan : antara Rp.20.000 s/d 75.000 sekali bezuk

2. pungli Tarif pilih kamar : s/d 1 juta

3. pungli menjadi tamping : 100.000 s/d 1 juta

4. pungli mengurus Pembebasab Bersyarat (PB), Cuti Bersyarat (CB), Cuti Menjelang bebas (CMB) : 300.000 s/d 1 juta

5. pungli mendapat remisi : 10.000 s/d 100.000

dll

bahkan ada yang sampai menghitung-hitung jumlah pungli dalam setahun bisa mencapai milyaran rupiah di Lapas besar. WOW…! ! FANTASTIS BUKAN !!

Tentu saja hal ini mengundang banyak reaksi yang intinya menginginkan adanya reformasi penjara dan keterbukaan. Namun sayangnya image jelek ini sudah kadung disematkan kepada seluruh penjara, tidak pandang bulu. Baik penjara di daerah yang penghuninya rata-rata orang desa yang miskin sampai Lapas dikota besar disamakan. Ironisnya semua pegaawai penjara dapat getahnya, seolah-olah semua pegawai penjara sama saja, pasti ikut-ikutan pungli..

Ironisnya, ada blacklist kepada semua pegawai penjara, seakan-akan semua pegawai panjara itu bermain pungli semua.

Tentu hal ini tidaklah benar, dimanapun tentu ada pegawai yang nakal, suka memanfaatkan kesempatan, namun juga pasti ada pegawai yang lurus-lurus aja, tidak mau makan uang hasil pungli. Jadi apakah kita bisa bijaksana dalam memberi penilaian ?

tentu ini bukanlah pembelaan, seiring dengan perubahan sistem penjara menjadi pemasyarakatan, sedikit-sedikit budaya penjara yang keras muali di rubah, termasuk pungli yang merebak. Bapak menteri juga mencanagkan program 100 hari yang diantaranya juga meminimalisir pungli di lapas.

Namun diakui atau tidak, menghilangkan pungli di lapas ini tidak semudah membalikkan telapa tangan. pungli di penjara berbeda dengan pungli di instansi lain, yang membuat pungli di penjara amat sulit diberantas, perbedaan itu diantaranya :

  1. dipenjara adalah empat tertutup, tidak semua orang boleh keluar masuk dengan leluasa. Apalagi masuk ke area blok hunian, harus ada ijin khusus. meskipun sekarang sudah ada jaminan bolehnya wartawan dan anggota dewan masuk melihat-lihat ke penjara, namun kenyataannya hal ini sangat jarang dilakukan.
  2. Meskipun media bisa masuk penjara, namun pengawasan baik dari media dan lainnya tidak bisa 24 jam, padahal kehidupan penjara 24 jam non-stop. maka jika suatu saat ada pemeriksaan, ada peliputan media dll, hari itu juga bisa di “kondisikan”, namun begitu media dan pengawas keluar dari penjara, siapa yang akan mengawasi lagi di dalam penjara selama 24 jam ?? berbeda dengan instansi lain yang terbuka bisa di pantau masyarakat setiap saat.
  3. yang terjadi di penjara adalah “sama-sama membutuhkan”. si napi butuh fasilitas yang nyaman untuk tempat tingalnya, butuh jaminan keamanan terhadap dirinya, begitu juga oknum petugas juga butuh duit. maka dari simbiosis-mutualisme ini terjadilah pungli yang disepakati bersama.
  4. Akibat dari Tahu Sama Tahu (TST) dan saling membutuhkan antara napi dan oknum petugas, maka dari pihak napi dan keluarga enggan mengadukan masalah pungli ini, kaena takut fasilitas yang diharapkan bisa dicabut atau bisa diintimidasi oknum di dalam penjara.  SIAPA YANG BISA MENJAMIN KESELAMATAN NAPI DIPENJARA ?

Maka upaya pembenahan di lingkungan lapas dan rutan terus dilakukan, sanksi terhadap pegawai nakalpun sudah mulai diberlakukan.

Mudah-mudahan penjara kita akan semakin manusiawi dan bebas dari praktek KKN dan pungli, amiin


Responses

  1. mantap……………………

  2. mantap sobat!
    saya suka gaya penulisan anda!
    ini baru namanya pemberitaan berimbang dilihat dari berbagai sisi dan tidak asal menyamaratakan seperti yg sering kita lihat di media masa!

    salam dari administrasi hukum umum, kumham pusat!

    • oke bro.. senang punya kenalan orang pusat…!

  3. satu lagi penyebab, kenapa pungli di penjara amat sulit di berantas, karena ada budaya setoran dari bawahan ke atasan. kalo yang seperti itu gimana?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: